YALI STORY_AYABIYE MASAG

  AYABIYE SUWIT

     Writer:  Edison Wandik

     Biologi  – UNIPA 2013

Editor: Christian Walianggen, UNIPA

Tanah Longsor merupakan peristiwa alam yang terjadi karena pergerakan atau pergeseran tanah, seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah yang terlepas dari bagian utama gunung atau bukit yang lebih tinggi, (Google-http://www.blogpenerang.com Mei/25/2013/.tanah-longsora.html). Menurut Arsyad (1989: 31) longsor terjadi sebagai akibat meluncurnya suatu volume tanah di atas suatu lapisan agak kedap air yang jenuh air. Lapisan yang terdiri dari tanah liat atau mengandung kadar liat akan bertindak sebagai peluncur. Sedangkan menurut Suprapto Dibyosaputro (1992: 27) Longsor lahan adalah salah satu tipe gerakan massa batuan dan tanah menuruni lereng akibat gaya gravitasi bumi.

Beberapa ahli mendefinisikan tanah longsor (landslide) sebagai suatu pergerakan massa batuan, tanah, atau bahan rombakan material penyusun lereng yang bergerak ke bawah atau ke luar lereng karena pengaruh gravitasi. Tanah longsor terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan. Gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah atau batuan (PVMBG, 2008). Jadi, dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tanah longsor/longsoran (landslide) adalah pergerakan suatu material penyusun lereng berupa massa batuan, tanah, atau bahan rombakan material (yang merupakan percampuran tanah dan batuan) menuruni lereng dari tempat yang tinggi, yang terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan, (Google-http://www.tentanggeografi.wordpress.com.mei/25/2013/pengertian-tanah-longsor/). Dalam tulisan ini saya akan menceritakan suatu cerita dongeng versi Masahangguli yang berkaitan langsung dengan longsor (Ayabie Masag) yang telah dan sedang terjadi di dunia di mana masyarakat ini hidup.

Ayabiye (telanjang) terdiri dari dua morfem yaitu a- dan –yabiye. Merfem a- menunjukan orang ketiga tunggal atau sesuatu yang menjadi obyek yang kita bicarakan, sedangkan morfem -yabiye artinya telanjang. Jadi secara harafiah kata ayabiye adalah manusia yang telanjang. Ayabiye dijadikan sebagai aktor dalam sebuah cerita dongeng Yali yang telah berkembang dari dulu sampai sekarang ini. Dongeng Ayabiye ciptakan oleh seorang pendongeng berdasarkan dengan sesuatu yang diamatinya atau berdasarkan sesuatu yang muncul dalam pikirannya tentang realitas kehidupan manusia. Dongeng ini diturunkan oleh nenek moyang Yali kepada generasinya dan generasi-generasi berikutnya melanjutkan dongeng tersebut sampai detik ini. Menurut Christian Walianggen, (2013) bahwa; dongeng Ayabiye diciptakan berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu dan dongeng ini berkembang terus sampai generasi sekarang maka, dongeng Ayabiye tidak akan punah karena adanya bukti fisik (longsor) tersebut dan kini dapat dilihat dan diceritakan oleh hampir seluruh generasi abab 21 ini namun, dongeng tersebut bisa hilang apabila generasi berikut beranggapan dongeng tersebut bersifat lokal dan tidak popular dan tidak penting bagi mereka.

Longsor Ayabiye terletak di kabupaten.Yalimo distrik Apahapsili kampung Masahangguli dan jaraknya mencapai ± 2 km dari kampung Masahangguli, tepatnya di sebelah salah satu kali yang besar yaitu kali Habie.  Seluruh Masyarakat mengenal baik longsor ini karena hidupnya cerita dongeng ini di tengah-tengah masyarakat.  Merunut cerita orang Yali bahwa Ayabiye adalah salah seorang pemuda yang tinggal di kampung Kolui atau Nini’i yang terletak di bagian barat dari kali Howon. Dan Ayabiye sering turun ke arah hilir kali Howon dan Habie tepatnya di tempat kedua kali ini bermuara. Jalur utama Ayabiye adalah melewati bukit Moluwo yang ada pada jejeran tanjung Fasig (Fasig Alo) dari kampung Tahi sampai turun di Yikapag tempat dimana kedua sungai itu bermuara. Hampir setiap hari Ayabiye melalui jalur ini untuk bekerja dan mencari nafkahnya.

Suatu hari Ayabiye naik dari arah hilir sungai Habie dan Howon melalui tanjung Fasig sebagaimana biasanya dengan membawa semua jenis makanan dari hasil kebunnya. Setibanya di salah satu kampung yang disebut kampung Fasig, Ayabiye menjumpai salah seorang gadis dengan adik laki-lakinya. Ayabiye terlihat tidak menutup kemaluan dari sejak kecil dan pada saat itupun Ayabiye tidak menutup badan sekalipun kemaluannya sebagaimana biasanya sebagai laki-laki dewasa. Anak-anak ini tersenyum manis sebagai ekspresi malu melihat laki-laki dewasa yang telanjang itu. Namun Ayabiye sendiri tidak menyadari apapun yang dipikirkan oleh anak-anak ini. Ayabiye sempat bertanya beberapa pertanyaan mengenai orang tua mereka sambil Ayabiye santai beristirahat dan menghisap rokoknya. Anak-anak itu menjawab dengan nada yang penuh takut dan malu bahwa orang tua mereka pergi ke kebun mencari nafkah mereka. Setelah Ayabiye istirahat sejenak, dia memberitahukan bahwa jika orang tuamu bertanya siapa yang kamu ketemu, katakan kepada orang tuamu bahwa kami ketemu dengan Ayabiye. Selain itu, diapun memberitahukan bahwa besok pagi kamu akan mendengar gusuran batu-batu disana dan itu saya akan sedang bekerja. Kemudian Ayabiye berdiri dan kembali memikul beban yang dibawanya dan berjalan menuju Tahi dimana dia tinggal.

Kedua orang tua dari anak-anak itu pulang kembali dari kebun ke kampung mereka, anak-anak itu memberitahukan tentang Ayabiye bahwa Ayabiye adalah laki-laki muda yang telanjang dan semua yang diucapkannya. Keesokan harinya mereka mendengar gusuran batu-batu besar atau longsor. Ketika mereka mendengar dan menyaksikan itu, mereka percaya bahwa yang terdengar oleh mereka adalah Ayabiye sedang kerja di lahan barunya, karena di tempat longsor ini sebelumya tidak pernah terjadi.

Menurut pencipta dongeng ini bahwa, sebetulnya Ayabiye adalah bukan manusia namun seekor binatang (Soa-soa) besar yang menjelma menjadi manusia dengan maksud tertentu. Orang Yali menyebutnya “Muluk”, Muluk benar-benar ditakuti oleh orang Yali karena adanya cerita ini. Selain itu, Muluk juga merupakan binatang yang ukurannya lebih besar dari binatang lain dan jarang dijumpai oleh orang banyak karena Muluk lebih suka menempatkan diri di tempat yang jarang dikunjungi orang. Orang Yali biasanya sangat hati-hati katika mereka memburuhnya terutama di bagian ekor karena ekornya mudah terputus. Jika ada seseorang yang dapat menyakiti hatinya maka segala kemarahannya akan segera hadir. Banyak musibah yang dihadirkan oleh Muluk, salah satunya adalah kesakitan. Jika diketahui sudah menyakitinya maka orang Yali segera mengadakan penanganan yang serius yaiu mengadakan suatu upacara dengan menyembelih ternak biaraan mereka. Dalam upacara itu dihadirkan tua-tua atau orang yang dipercayai (hihit inaptuk inap) yang mempunyai kekuatan mengusir godaan dari luar. Dalam upacara itu, tua-tua tersebut membaca ayat-ayat ritual khusus untuk mengusir segala perkara yang datang mengganggu mereka. Jika ada kelalaian dalam hal ini, maka musibah yang dihadirkan dapat merugikan dirinya ataupun seluruh keluarganya.

Dengan pertemuan yang dijelaskan dalam paragraph sebelumnya bahwa Ayabiye meninggalkan sebuah cerita kepada anak-anak ini bahwa di dunia yang sama ada manusia lain yang hidup, berkomunikasi dan beraktivitas sebagaimana manusia melakukan dalam hidup mereka.  Ayabiye seharusnya bukan manusia namun memiliki sifat gaib untuk menjelma menjadi manusia. Walaupun Ayabiye memiliki sifat gaib namun rasa takut selalu menyelimutinya, buktinya adalah Ayabiye tidak berani bertatap muka dengan orang dewasa untuk berkomunikasi seperti manusia. Pertemuan dengan anak-anak kecil ini menunjukan nyali yang lemah untuk mengutarakan rencana matangnya yang terpendam dalam benaknya.

Demikian cerita singkat tentang Ayabiye Masag dan kisah perjalanan Ayabiye (Muluk) di Kab.Yalimo distrik Apahapsili Kampung Masahangguli.saya menuliskan secara singkat saja penulis juga menyadari bahwa ada banyak kekurangan baik itu salah menempatkan kata,atau tidak sesui dengan cerita orang Yali Masahangguli, saya mohon maaf karena datanya belum lengkap.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s